KOMPETENSI STRATEGIS MATEMATIS

KOMPETENSI STRATEGIS MATEMATIS:
APA, MENGAPA, DAN BAGAIMANA DIKEMBANGKAN PADA PESERTA DIDIK

Dwi Yuliyanti1
Universitas PGRI Yogyakarta

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

[email protected]

ABSTRAK
Kesulitan siswa dalam menghadapi persoalan matematika seringkali karena terjebak dengan miskinnya kecakapan dalam pemecahan masalah. Ini artinya bisa jadi siswa dapat memahami, mengoperasikan, dan merelasikan konsep tetapi siswa tidak dapat memecahkan masalah karena tidak mempunyai kecakapan dalam pemecahan masalah yang baik. Adapun kecakapan pemecahan masalah pada kecakapan matematika disebut kompetensi strategis matematis. Makalah ini mendeskripsikan mengenai apa, mengapa, dan bagaimana kompetensi strategis matematis dikembangkan pada peserta didik.

ABSTRACT
The difficulties of student in dealing with mathematical problems are often due to being trapped with poor skills in problem solving. This means students can understand, operate, and relate concepts but students can not solve problems because they do not have the skills in good problem solving. The problem-solving skills in mathematical skills are called mathematical strategic competence. This paper describes what, why, and how mathematical strategic competencies are developed in the learner.

Kata kunci: kompetensi strategis matematis
.

1. Apa Kompetensi Strategis Matematis
“Strategy is a style of thinking, conscious and deliberate process, an intensive implementation system, the science of insuring future success” (Johnson, 2011). Artinya strategi adalah gaya berpikir, proses sadar dan disengaja, sistem implementasi yang intensif, ilmu mengasuransikan kesuksesan masa depan. Menurut Kamus Bahasa Indonesia strategi adalah ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu. Jadi, dapat diartikan bahwa strategi adalah seni gaya berpikir yang secara sadar digunakan untuk menyelesaikan permasalahan tertentu. Strategi dapat bertindak dan berkembang secara simultan dan lancar di antara para guru, pelajar, masyarakat, dan konteks sosial. Ketika mempertimbangkan desainnya, strategi bukan merupakan contoh yang terisolasi mereka merupakan suatu metode pembelajaran yang mengikuti pendekatan ilmiah atau gaya pendidikan yang konsisten yang berhubungan dengan pikiran peserta didik.
Kompetensi strategis merupakan salah satu dari lima kecakapan matematis. Kecakapan matematis adalah salah satu syarat mencapai kemajuan di jaman modern. Kecakapan ini merupakan bekal untuk menghadapi abad ke-21 yang serba kompetitif (Kilpatrick, Swafford, Findell, & Committee, 2001). Oleh karena itu, kecakapan tersebut merupakah hal yang perlu dicapai agar menjadi kompetitif dan tidak ketinggalan jaman. Menurut Kilpatrick (2001) kecakapan matematis yang terdiri dari lima komponen ( five strand), adalah,
1) Pemahaman konseptual (conceptual understanding) yaitu pemahaman siswa tentang konsep-konsep, operasi-operasi dan relasi-relasi matematis.
2) Kelancaran prosedural (procedural fluency) yaitu keahlian siswa dalam menggunakan prosedur-prosedur secara fleksibel, akurat, efisien dan tepat.
3) Kompetensi strategis (strategic competence) yaitu kemampuan siswa untuk merumuskan, menyajikan, dan memecahkan permasalahan matematis.
4) Penalaran adaptif (adaptive reasoning) yaitu kapasitas siswa untuk berpikir logis, memperkirakan, merefleksikan, menjelaskan dan memberikan alasan.
5) Disposisi produktif (productive disposition) yaitu kecenderungan siswa untuk membiasakan diri melihat matematika sebagai sesuatu yang masuk akal, berguna, dan berharga, bersamaan dengan kepercayaan mereka terhadap ketekunan dan keberhasilan dirinya sendiri dalam matematika.
Menurut Ozdemir dan Pape dalam Syukriani (2013) bahwa “Strategic competence includes knowing and employing strategies to analyse and complete tasks and activities or to solve problem with the goal of learning mathematics content”. Artinya bahwa kompetensi strategis yakni mengetahui dan mempekerjakan strategi untuk menganalisis dan menyelesaikan tugas dan aktifitas atau untuk menyelesaikan
masalah dengan tujuan pada pembelajaran konten matematika.
Menurut Kilpatrick (2001) “Strategic competence refers to the ability to formulate mathematical problems, represent them, and solve them. This strand is similar to what has been called problem solving and problem formulation in the literature of mathematics education and cognitive science, and mathematical problem solving, in particular, has been studied extensively.” (Artinya kompetensi strategis mengacu pada kemampuan memformulasikan masalah matematika, merepresentasikannya, dan memecahkannya. Untaian ini sama dengan apa yang telah disebut dengan pemecahan masalah dan perumusan masalah dalam literatur pendidikan matematika dan ilmu kognitif dan pemecahan masalah matematika, secara khusus, telah dipelajari secara ekstensif.)
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi strategis adalah suatu keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah matematika dengan menggunakan strategi yang tepat. Kompetensi strategis adalah aktifitas mental dalam mengontrol prilaku menggunakan strategi.
Kompetensi Strategis Matematis (KSM) dibangun dari tiga komponen kemampuan, yaitu: merumuskan, merepresentasikan dan memecahkan masalah (Kilpatrick et al., 2001). Tiga komponen kemampuan ini merupakan aktivitas penting untuk mencapai kompetensi dalam kehidupan nyata. Pertama, kemampuan merumuskan adalah penting karena kebanyakan persoalan yang ada di dunia nyata merupakan persoalan belum dalam bentuk model matematika sehingga perlu ada kecakapan untuk merumuskan dalam bentuk matematika. Untuk itu, kemampuan merumuskan memiliki peran sangat penting untuk memahami masalah. Kedua, kemampuan mereperesantasikan adalah kecakapan untuk menghadirkan persoalan dalam bentuk tabel, gambar, ataupun diagram. Kemampuan ini memberi jembatan untuk memperlihatkan bentuk abstrak ke bentuk konkrit atau semi konkrit. Dengan representasi ini, masalah lebih tergambarkan dan lebih konkrit sehingga tampak lebih mudah untuk dipahami dan diselesaikan. Ketiga, kecakapan pemecahan masalah adalah kecakapan menyelesaikan masalah yang tidak langsung diketahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya berdasarkan pengalaman (Hendrayana, 2015).

2. Mengapa Perlu Dikembangkan
Matematika merupakan ilmu yang penting untuk dikuasai seseorang ketika dia dituntut untuk mampu memahami permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang membutuhkan matematika bukan hanya sebagai mata pelajaran yang digunakan di dalam kelas saja, akan tetapi sebuah ilmu yang memperkuat kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah dengan mengaplikasikan matematika. Belajar matematika harus mendorong peserta didik untuk mampu menerapkan konsep matematika sederhana dalam menyelesaikan masalah nyata serta mampu hubungkan konsep, ide, maupun prosedur matematika dengan topik-topik dalam matematika maupun di luar bidang matematika. Dengan belajar matematika peserta didik dapat berlatih menggunakan pikirannya secara logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif dan memiliki kemampuan bekerja sama dalam menghadapi berbagai masalah serta mampu memanfaatkan informasi yang diterimanya (Nurrohmah, 2016).
Dewasa ini, pelajaran matematika dianggap membosankan dan tidak memiliki arti serta dianggap kurang bermanfaat oleh siswa. Padahal dengan memiliki kemampuan matematika yang baik, seorang peserta didik akan mampu mengaplikasikan kemampuan matematikanya ke dalam kehidupan sehari-hari dan dapat memecahkan masalah dengan kemampuan tersebut. Anggapan peserta didik bahwa matematika dianggap membosankan dan tidak bermakna dimungkinkan karena pembelajaran di kelas masih menggunakan proses pembelajaran yang konvensional.
Depdiknas menjelaskan bahwa pembelajaran konvensional (teacher centered) merupakan pembelajaran yang memiliki pola strukturalistik dan mekanistik. Pembelajaran tersebut menitik beratkan pada aktivitas mengingat (memorizing) atau menghafal (rote learning) dan tidak menekankan pada kemampuan pemahaman (understanding). Pembelajaran dengan pola tersebut menjadikan aktivitas dan kemampuan pemahaman peserta didik menjadi sangat rendah, sehingga berakibat pada kemampuan strategis matematis yang rendah pula.
Hal tersebut juga sependapat dengan hasil PISA, PISA (Programme for International Student Assessment) merupakan suatu penilaian secara internasional terhadap keterampilan dan kemampuan siswa usia 15 tahun. Dari hasil tes dan evaluasi PISA 2015 performa siswa-siswi Indonesia masih tergolong rendah. Berturut-turut rata-rata skor pencapaian siswa-siswi Indonesia untuk sains, membaca, dan matematika berada di peringkat 62, 61, dan 63 dari 69 negara yang dievaluasi. Peringkat dan rata-rata skor Indonesia tersebut tidak berbeda jauh dengan hasil tes dan survey PISA terdahulu pada tahun 2012 yang juga berada pada kelompok penguasaan materi yang rendah.. Beberapa faktor penyebab rendahnya prestasi siswa Indonesia dalam PISA yang dikemukakan, antara lain.
1) Lemahnya kemampuan pemecahan masalah non-rutin atau level tinggi. Soal yang diujikan dalam PISA terdiri atas 6 level (level 1 terendah dan level 6 tertinggi) dan soal-soal yang diujikan merupakan soal kontekstual, permasalahannya diambil dari dunia nyata. Siswa di Indonesia hanya terbiasa dengan soal-soal rutin pada level 1 dan level 2.
2) Sistem evaluasi di Indonesia yang masih menggunakan soal level rendah. Lemahnya kemampuan pemecahan masalah juga dipengaruhi oleh sistem evaluasi di Indonesia. Baik tes yang dilakukan oleh guru ataupun pemerintah (Ujian Nasional atau UN), biasanya hanya menggunakan level 1 dan level 2. Akibatnya, siswa Indonesia tidak mampu menjangkau soal-soal level tinggi.
3) Siswa terbiasa memperoleh dan menggunakan pengetahuan matematika formal di kelas dalam proses belajar-mengajar. Pada umumnya guru biasanya memberikan rumus formal. Berbeda halnya dengan soal PISA yang diawali dengan permasalah sehari-hari, kemudian dari permasalahan tersebut siswa diminta untuk berpikir dengan bebas menggunakan berbagai cara untuk menyelesaikannya, belajar memberi alasan, belajar membuat kesimpulan, dan belajar menggeneralisasi formula atau membuat rumus umum dari permasalahan yang diberikan. Hasil PISA menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah yang merujuk pada kompetensi strategis matematis siswa masih kurang.
Kompetensi strategis nampak hampir serupa dengan pemecahan masalah matematis. Perbedaannya, dalam pandangan ini kompetensi strategis adalah “pemecahan masalah sebagai konteks” (Kilpatrick et al., 2001). Hal ini dimaksudkan untuk menghubungkan matematika dengan situasi dunia nyata secara langsung. Dengan demikian, kompetensi strategis dikembangkan untuk memecahkan masalah yang muncul dalam keseharian siswa. Perbedaan lainnya adalah bahwa kompetensi strategis lebih menekankan pada kemampuan berstrategi, yaitu kemampuan untuk menentukan strategi yang paling efektif dalam memecahkan suatu masalah matematis (Meyer dalam Graf, 2009). Ini berarti, kompetensi strategis dapat memberikan dampak pada kemampuan siswa dalam memecahkan masalah. Ketika tingkat kompetensi strategis yang dimiliki siswa semakin tinggi maka kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah pun akan semakin baik. Hal ini dapat membantu siswa mempersiapkan diri dalam menghadapi permasalahan yang akan terjadi dalam dunia kerja mereka nantinya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kompetensi strategis matematis siswa merupakan kemampuan esensial dalam pembelajaran matematika yang senantiasa perlu terus ditingkatkan.

3. Bagaimana Mengembangkannya Pada Peserta Didik
Berdasarkan pada beberapa studi yang menerapkan beragam pendekatan atau model pembelajaran diperoleh hasil bahwa siswa yang mendapat pembelajaran yang berbasis masalah lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mendapat pembelajaran biasa.
Studi mengenai kompetensi strategis yang dilakukan oleh Firasati (2011) dengan mengambil subyek kelas VII melaporkan bahwa kompetensi strategis siswa dengan menggunakan model pembelajaran Osborn pada materi keliling dan luas bangun datar segitiga dan segiempat menjadi lebih baik. Akan tetapi dari ketiga indikator kompetensi strategis matematis yaitu (strategic competence) matematis yaitu memformulasikan masalah, merepresentasikan masalah, dan menyelesaikan masalah, indikator merepresentasikan masalah yang paling sedikit tercapai oleh siswa. Hal ini dikarenakan siswa sudah mengerti apa yang diketahui dan ditanyakan dari soal namun pada saat akan mengubah apa yang diketahui dan ditanyakan dari soal kedalam ekpresi matematika kebanyakan siswa masih salah.
Studi yang dilakukan oleh Amalia (2016) dengan mengambil subyek siswa kelas X SMK menunjukkan adanya peningkatan kompetensi strategis matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan strategi team-based learning lebih tinggi daripada siswa yang memperoleh pembelajaran biasa ditinjau dari keseluruhan siswa dan untuk kategori pengetahuan awal matematika sedang dan rendah.
Studi yang dilakukan oleh Nurrohmah (2016) dengan subyek siswa kelas VII menunjukkan hasil bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Metaphorical Thinking dapat meningkatkan kompetensi strategis matematis siswa.
Temuan-temuan di atas menunjukkan bahwa pembelajaran yang berbasis pada masalah meningkatkan kemampuan memformulasikan masalah, mempresentasikannya dan memecahkannya. Penerapan model dan pendekatan pembelajaran dalam studi yang dilaporkan di atas ternyata memberi peluang tercapainya peningkatan kompetensi strategis siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Amalia, K. (2016). Peningkatan Kompetensi Strategis Matematis Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Melalui Strategi Team-Based Learning, 5(1), 1–14.
Firasati, S. (2011). Kompetensi Strategis Matematis Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Osborn di Kelas VII D SMP Negeri 51 Palembang.
Graf, E. A. (2009). Defining Mathematics Competency in the Service of Cognitively Based Assessment for Grades 6 Through 8. ETS Research Report Series, 2009(2), i-46. https://doi.org/10.1002/j.2333-8504.2009.tb02199.x
Hendrayana, A. (2015). Pengaruh Pembelajaran Pendekatan Rigorous Mathemathical Thingking (RMT) Terhadap Pemahaman Konseptual, Kompetensi Strategis, dan Beban Kognitif Matematis Siswa SMP Boarding School. Universitas Pendidikan Indonesia, 1–21.
Johnson, P. (2011). Strategic Knowledge and Strategic Competence, 121–138.
Kilpatrick, J., Swafford, J., Findell, B., & Committee, L. S. (2001). Adding It Up: Helping Children Learn Mathematics. Washington DC: National Academy Press. https://doi.org/10.17226/9822
Nurrohmah, H. (2016). Upaya Meningkatkan Kompetensi Strategis Matematis Melalui Pendekatan Metaphorical Thinking Siswa Kelas VII A SMP Negeri 11 Yogyakarta. Universitas PGRI Yogyakarta, 39–48.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Bahasa Indonesia.
Syukriani, A. (2013). Kompetensi Strategis Siswa SMA Berkemampuan Matematika Tinggi dalam Menyelesaikan Masalah Matematika, 2(2000), 83–91.

x

Hi!
I'm Mila

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out