BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS Tinjauan Pustaka Landasan Teori Volume Penjualan “Volume adalah suatu indikasi mengenai luasnya kapasitas penggunaan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
Tinjauan Pustaka
Landasan Teori
Volume Penjualan
“Volume adalah suatu indikasi mengenai luasnya kapasitas penggunaan, yang diukur dengan selisih antara fixed overhead yang semula dianggarkan dan ditentukan untuk tingkat produksi yang sesungguhnya dicapai, jika overhead tetap yang dihitung lebih rendah dari pada yang semula dianggarkan, akan timbul varians volume yang menguntungkan yang menunjukkan bahwa organisasi beroperasi dengan kapasitas yang lebih rendah dari pada tingkat yang direncanakan, karena masalah ini dapat di interpretasikan dengan berbeda-beda, maka pengertiannya harus ditetapkan menurut konteksnya.” (Basu Swastha 2001:31)
“Penjualan adalah interaksi antara individu saling bertatap muka yang ditujukan untuk menciptakan, memperbaiki, menguasai, atau mempertahankan hubungan pertukaran sehingga menguntungkan pihak lain.” (Basu Swastha 2004:403).

Penjualan / sales adalah sejumlah uang yang dibebankan kepada pembeli atas barang atau jasa yang dijual.” (Kusnadi 2000:19).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Penjualan adalah proses menjual, padahal yang dimaksud penjualan dalam laporan laba-rugi adalah hasil menjual atau hasil penjualan (sales) atau jualan.” (M. Narafin 2006:60).

Menurut Basu Swasta (2001) fungsi penjualan meliputi aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh penjual untuk merealisasikan penjualan seperti menciptakan permintaan, mencari pembeli, memberikan syarat-syarat penjualan, dan memindahkan hak milik. Seorang penjual harus mampu meyakinkan calon pembeli agar mau membeli barang yang ditawarkannya. Semakin tinggi barang yang laku dijual, maka dapat meningkatkan perolehan laba pada perusahaan.Menurut Basu Swasta (2001) terdapat lima jenis penjualan yang biasa dikenal dalam masyarakat adalah sebagai berikut. (1) Trade Selling merupakan penjualan yang terjadi bilamana produsen dan pedagang besar mempersilahkan pengecer untuk berusaha memperbaiki distribusi produk mereka. (2) Missionary Selling, dalam missionary selling, penjualan berusaha ditingkatkan dengan mendorong pembeli untuk membeli barang dari penyalur perusahaan. (3) Technical Selling merupakan berusaha meningkatkan penjualan dengan pemberian saran serta nasihat kepada pembeli akhir dari barang dan jasa yang dijual. (4) New Business Selling merupakan berusaha membuka transaksi baru dengan membuat calon pembeli menjadi pembeli. (5) Responsive Selling merupakan setiap tenaga penjual diharapkan dapat memberikan reaksi terhadap permintaan pembeli melalui Roote driving and Retaining.

Selain itu terdapat berbagai macam transaksi penjualan yang dikemukakan oleh La Midjan (2001) dapat diklasifikasikan menjadi (1) penjualan secara tunai merupakan penjualan yang terjadi setelah kesepakatan harga antara penjual dan pembeli, pembeli langsung menyerahkan pembayaran secara tunai dan barang bisa langsung dimiliki oleh pembeli. (2) penjualan secara kredit merupakan penjualan yang tidak dibayar secara langsung atau tunai tetapi dengan tenggang waktu. (3) penjualan secara tender merupakan penjualan yang dilakukan melalui prosedur tender untuk memenuhi permintaan pihak pembeli yang membuka tender. Tender adalah suatu proses penyeleksian yang melibatkan beberapa perusahan yang mana pemenang akan melakukan kerjasama dengan perusahan tersebut. (4) penjualan ekspor merupakan penjualan barang ke luar negeri dengan menggunakan sistem pembayaran, kualitas, kuantitas dan syarat penjualan lainnya yang telah disetujui oleh pihak eksportir dan importir. (5) penjualan secara konsinyasi merupakan penjualan barang secara titipan kepada pembeli yang juga sebagai penjual. (6) penjualan secara grosir merupakan penjualan yang dilakukan secara tidak langsung kepada pembeli, tetapi melalui pedagang perantara yang menjadi perantara pabrik atau importir dengan pedagang eceran, dengan kata lain grosir diartikan sebagai penjualan barang kepada pengecer, pengguna bisnis industri, komersial, institusi atau profesional, atau kepada penggrosir lainnya dan jasa terkait.

“Volume Penjualan adalah total penjualan yang didapat dari komoditas yang yang diperdagangkan dalam suatu masa tertentu”. John Downesdan Jordan Elliot Goodman yang diterjemahkan oleh Susanto Budidharmo (2000:646).”Volume penjualan yang berhasil dicapai atau ingin dicapai oleh suatu perusahaan pada periode tertentu ” Alimiyah dan Padji (2003:126).

Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa volume penjualan merupakan hasil dari kegiatan penjualan yang dilakukan perusahaan dalam usahanya mencapai sasaran yaitu memaksimalkan laba.Biaya Operasional
Biaya operasional secara harafiah terdiri dari 2 kata yaitu “biaya” dan “operasional” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, biaya berarti uang yang dikeluarkan untuk mengadakan (mendirikan, melakukan, dan sebagainya) sesuatu, ongkos, belanja, dan pengeluaran. Sedangkan, operasional berarti secara (bersifat) operasi, berhubungan dengan operasi.”Biaya Operasional adalah keseluruhan biaya sehubungan dengan operasional di luar kegiatan proses produksi termasuk di dalamnya biaya penjualan dan biaya administrasi dan umum”. Margaretha (2007:24).

Penggolongan biaya yaitu (1) penggolongan biaya menurut objek pengeluarannya adalah dengan menggunakan nama objek pengeluaran sebagai dasar penggolongan, (2) penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan dapat digolongkan menjadi tiga yaitu biaya produksi, biaya pemasaran, dan biaya administrasi dan umum, (3) penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai dapat digolongkan menjadi dua yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung, (4) penggolongan biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan dapat digolongkan menjadi empat yaitu biaya variabel, biaya semi variabel, biaya semi fixed, dan biaya tetap, (5) penggolongan biaya atas dasar jangka waktu dan manfaatnya dapat digolongkan menjadi dua yaitu pengeluaran modal dan pengeluaran pendapatan. (Mulyadi : 2005)
Menurut Supriyono (2004), biaya operasi dikelompokan menjadi 2 golongan dan dapat diartikan sebagai berikut:
Biaya langsung (direct cost) adalah biaya yang terjadi atau manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada objek atau pusat biaya tertentu.

Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang terjadi atau manfaatnya tidak dapat diidentifikasikan pada objek atau pusat biaya tertentu, atau biaya yang manfaatnya dinikmati oleh beberapa objek atau pusat biaya.

Dari pengertian tersebut diatas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa :Biaya operasional langsung merupakan biaya yang dapat dibebankan secara langsung pada kegiatan operasional.

Biaya operasional tidak langsung adalah biaya yang tidak secara langsung dibebankan pada kegiatan operasional.

Menurut Ony etc all (2012:13) Biaya Operasional memiliki 2 indikator yaitu:
Biaya Pemasaran/Penjualan: Merupakan biaya – biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran/penjualan produk. Contohnya adalah biaya iklan, biaya promosi, biaya angkutan dari gudang perusahaan ke gudang pembeli, gaji karyawan bagian – bagian yang melaksanakan kegiatan pemasaran, biaya contoh (sample).
Biaya Administrasi Umum: Merupakan biaya – biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produk dan pemasaran produk. Contohnya biaya ini adalah biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi, Personalia dan bagian hubungan masyarakat, biaya pemeriksaan akuntansi dan biaya fotokopi “.

Indikator pengukuran biaya operasional adalah dengan menjumlahkan biaya administrasi umum, biaya penyusutan, biaya pemasaran, dan biaya lain-lain (Ismail, 2010). Sedangkan Kasmir (2011) biaya operasional dapat dihitung dengan menjumlahkan biaya gaji pegawai, biaya administrasi, biaya pemeliharaan, dan biaya lain-lain. Selanjutnya Lukman (2001) menyebutkan indikator biaya operasional adalah dengan menjumlahkan biaya penyusutan, biaya pemasaran, biaya administrasi umum dan biaya operasional lainnya.
Menurut Adisaputro (2003), maka jenis biaya operasi digolongkan sesuai dengan fungsi pokok kegiatan perusahaan. Dalam hal ini biaya pada suatu perusahaan terbagi menjadi 2 kelompok besar, yaitu :Biaya produksi
Biaya produksi meliputi semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi yaitu semua biaya dalam rangka pengolahan bahan baku menjadi produk selesai yang siap dijual.

Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam 3 kelompok, yaitu :Biaya bahan baku
Adalah harga perolehan berbagai macam bahan baku yang dipakai dalam kegiatan pengolahan produk.

Biaya tenaga kerja langsung
Adalah balas jasa yang diberikan oleh perusahaan, kepada tenaga kerja langsung dan manfaatnya dapat diidentifikasikan kepada produk tertentu.Biaya overhead pabrik
Biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik adalah seluruh biaya yang digunakan untuk mengkonversi bahan baku menjadi produk jadi, selain bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

Elemen-elemen biaya overhead pabrik dapat digolongkan kedalam :Biaya bahan penolong
Biaya tenaga kerja langsung
Biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap
Biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap
Biaya listrik dan air
Biaya asuransi pabrik
Biaya overhead pabrik lain-lain
Biaya non produksi
Dengan semakin tajamnya persaingan dan perkembangan teknologi yang semakin pesat mengakibatkan biaya non produksi menjadi semakin penting. Sehingga manajemen berkewenangan untuk mengendalikan informasi mengenai kegiatan dan biaya non produksi tersebut. Pada umumnya, biaya non produksi dapat digolongkan kedalam :Biaya pemasaran
Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk. Contohnya adalah biaya iklan, biaya promosi, biaya angkutan dari gudang perusahaan kegudang pembeli, gaji karyawan bagian-bagian yang melaksanakan kegiata pemasaran, biaya contoh (sampel).Biaya administrasi dan umum
Merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk, contoh biaya ini adalah biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi, personalia, dan bagian hubungan masyarakat biaya pemeriksanaan akuntan, biaya foto copy.Laba Bersih
“Laba bersih berasal dari transaksi pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian. Transaksi-transaksi ini diiktisarkan dalam laporan laba rugi. Laba dihasilkan dari sumber daya masuk (pendapatan dan keuntungan) dengan sumber daya keluar (beban dan kerugian) selama periode tertentu”. Henry Simamora (2000:25). Soemarso (2002) memberikan pengertian mengenai laba adalah selisih lebih pendapatan atas biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan usaha untuk memperoleh pendapatan tersebut selama periode tertentu.Menurut Sofyan S Harahap (2007) terdapat bentuk atau jenis konsep laba diantaranya adalah konsep (1) laba akuntansi, merupakan perbedaan antara revenue yang direalisasikan yang timbul dari transaksi pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada saat periode tersebut. (2) konsep laba ekonomi yang menyatakan bahwa laba adalah kenaikan dalam kekayaan dan dikaitkan dengan praktis bisnis. Sifat-sifat laba ekonomi mencakup tiga tahapan yaitu sebagai berikut. (3) konsep capital maintenance menurut kosep ini, laba baru disebut ada setelah modal yang dikeluarkan tetap masih ada atau biaya biaya telah tertutupi atau pengambilan modal.
Jenis-jenis laba dalam kaitannya dengan perhitungan laba rugi terdiri dari empat yaitu (1) laba kotor merupakan selisih antara hasil penjualan dengan harga pokok penjualan (HPP), (2) laba operasional merupakan hasil dari aktivitas yang termasuk rencana-rencana kecuali ada perubahan-perubahan besar dalam ekonomi yang dapat diharapkan akan dicapai setiap tahun atau laba operasional (net operating income) yaitu laba perusahaan yang diperoleh dari kegiatan usaha pokok perusahaan yang bersangkutan dalam jangka waktu tertentu, (3) laba sebelum dikurangi pajak merupakan laba operasi ditambah hasil usaha dan dikurangi biaya di luar operasi biasa, dan (4) laba sesudah pajak atau laba bersih merupakan laba setelah dikurangi dengan beban-beban atau pajak. (Supriyono : 2004).

Faktor-faktor yang mempengaruhi laba yaitu (1) biaya, merupakan suatu pengorbanan yang diukur dengan satuan uang yang digunakan untuk menjalankan suatu usaha, (2) harga jual, merupakan jumlah tertentu yang dibayarkan oleh konsumen terhadap barang atau jasa yang diterima, dan (3) volume penjualan dan produksi, besarnya volume penjualan akan berpengaruh terhadap volume produksi akan mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi. (Mulyadi 2001: 513)
Skema Perhitungan Laba Bersih
PENJUALAN BERSIH
TOTAL BIAYA
LABA BERSIH
SEBELUM PAJAK

=
LABA BERSIH
PAJAK
dikurangi

Hubungan Volume penjualan dengan Laba Bersih
Menurut Aliminsyah dan Padji (2003:126), volume penjualan merupakan total penjualan yang berhasil dicapai atau ingin dicapai oleh suatu perusahaan pada periode tertentu. Untuk memperoleh laba yang optimal adalah dengan memperhatikan volume penjualan serta menekan biaya-biaya operasional yang akan dikeluarkan perusahaan. Volume penjualan yang optimal dan biaya operasional yang efisien merupakan target perusahaan, oleh karena itu perusahaan akan melakukan banyak cara dalam mencapai target yang telah direncanakan, karena faktor penentu atas perolehan laba yang optimal adalah volume penjualan yang optimal dan biaya operasional yang efisien.

Volume penjualan dan biaya sangatlah berpengaruh terhadap laba bersih. Volume penjualan yang meningkat serta biaya yang efisien mestinya berpengaruh terhadap peningkatan laba yang diperoeh oleh perusahaan dan demikian pila sebaliknya. Sesuai dengan Pendapat Budi Rahardjon (2007) bahwa, adanya hubungan yang erat mengenai volume penjualan terhadap peningkatan laba bersih perusahaan dalam hal ini dapat dilihat dari laporan laba-rugi perusahaan, karena dalam hal ini laba akan timbul jika penjualan produk lebih besar dibandingkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan.

Menurut Budi Rahardjo (2000:33) bahwa: “Peningkatan laba bersih perusahaan, karena dalam hal ini laba akan timbul jika penjualan produk lebih besar dibandingkan dengan biaya -biaya yang dikeluarkan. Faktor utama yang mempengaruhi besar kecilnya laba adalah pendapatan, pendapatan dapat diperoleh dari hasil penjualan barang”.

Eva Eresti (2008) adanya hubungan yang erat volume penjualan terhadap peningkatan laba bersih perusahaan, bahwa dengan semakin meningkatnya volume penjualan perusahaan ternyata membawa keuntungan yang sangat besar bagi perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari hasil laba bersih yang setiap tahunnya meningkat seiring dengan perubahan volume penjualan.

Hubungan Biaya Operasional dengan Laba Bersih
Keberhasilan suatu perusahaan bias dilihat pada tingkat laba bersih yang diperoleh perusahaan itu sendiri karena tujuan utama perusahaan pada umumnya adalah untuk memperoleh laba bersih yang sebesar-besarnya dan pencapaian laba bersih merupakan faktor yang menentukan bagi kelangsungan hidup perusahaan sendiri. Laba bersih bisa didapat secara optimal, jika volume penjualan mencapai hasil yang maksimal serta biaya yang dikeluarkan dapat ditekan sekecil mungkin.

Biaya operasional merupakan biaya yang memiliki peran besar dalam mempengaruhi keberhasilan perusahaan untuk mencapai tujuannya. Karena, produk yang dihasilkan perusahaan melalui proses produksi yang panjang dan produk harus sampai kepada konsumen melalui serangkaian aktivitas yang saling menunjang. Tanpa aktivitas operasional yang terarah maka produk yang dihasilkan tidak akan memiliki manfaat bagi perusahaan.

Perolehan laba bersih sangat ditentukan oleh besar kecilnya biaya yang digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatannya. Semakin biaya itu bisa ditekan mestinya akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan laba bersih perusahaan. Sesuai dengan pendapat Jopie Jusuf (2006) bahwa, bila perusahaan dapat menekan biaya operasional, maka perusahaan akan dapat meningkatkan laba bersih, demikian juga sebaliknya, bila terjadi pemborosan biaya akan mengakibatkan menurunnya laba.
Umar Juki (2008:9) dalam perhitungan laba rugi, besarnya biaya ini akan mengurangi laba atau menambah rugi perusahaan. Tingginya biaya operasi akan membuat peningkatan laba turun, begitu juga jika nilai biaya operasi rendah maka, peningkatan laba akan naik. Jadi untuk memperoleh laba yang tinggi perlu diperhatikan biaya-biaya yang dikeluarkan dan mengendalikannya. Secara efektif, selain itu perusahaan dapat mencapai laba sesuai dengan yang ingin dicapainya.

Penelitian Terdahulu
Berikut penelitian terdahulu untuk mengetahui pengaruh volume penjualan dan biaya operasional terhadap laba bersih perusahaan :
Matrik Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti Variabel Hasil Penelitian
1. Kadek Marlita Dewi (2017)
“Pengaruh Volume Penjualan Kamar dan Biaya Operasional terhadap Laba Bersih pada Hotel Grand Wijaya Singaraja Tahun 2014-2016” Menggunakan 2 variabel bebas yaitu volume Penjualan dan biaya operasional, 1 variabel terikat yaitu Laba bersih. Volume penjualan kamar mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap laba bersih pada Hotel Grand Wijaya Singaraja tahun 2014-2016. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis ttes yang menunjukkan bahwa nilai t-hitung lebih besar dari ttabel (16,355 > 2,03) dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05. Biaya operasional mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap laba bersih pada Hotel Grand Wijaya Singaraja tahun 2014-2016. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis t-tes yang menunjukkan bahwa nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel (6,919 > 2,03) dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05. Secara simultan volume penjualan kamar dan biaya operasional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap laba bersih pada Hotel Grand Wijaya Singaraja tahun 2014- 2016. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis F-tes yang menunjukkan bahwa nilai F- hitung lebih besar dari F-tabel (133,980 >4,13) dengantarafsignifikansi 0,000 < 0,05.

2. I Wayan Bayu Wisesa, Anjuman Zukhri, Kadek Rai Suwena (2014)
Pengaruh Volume Penjualan dan Biaya Operasional terhadap Laba Bersih Pada UD. AGUNG ESHA KARANGASEM Tahun 2013 Menggunakan 2 variabel bebas yaitu volume Penjualan dan biaya operasional, 1 variabel terikat yaitu Laba bersih. Subjek dalam penelitian ini adalah UD. Agung Esha sedangkan yang menjadi objek penelitian ini adalah volume penjualan mente, biaya operasional dan laba bersih. Data dikumpulkan dengan metode dokumentasi dan dianalisis dengan metode regresi linier berganda. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa volume penjualan berpengaruh terhadap laba bersih pada UD. Agung Esha tahun 2013. Hal tersebut dilihat dari hasil analisis ttes yang memperlihatkan bahwa nilai thitung = 5.650 > ttabel = 1.81246. Besar pengaruh volume penjualan mente terhadap laba bersih adalah sebesar 0,883. Biaya operasional berpengaruh terhadap laba bersih pada UD. Agung Esha tahun 2013. Hal tersebut dilihat dari hasil analisis ttes yang memperlihatkan bahwa nilai thitung = 3.078 > ttabel = 1.81246. Besar pengaruh biaya operasional terhadap laba bersih adalah sebesar – 0,716. Volume penjualan dan biaya operasional berpengaruh terhadap laba bersih pada UD. Agung Esha tahun 2013. Hal tersebut dilihat dari hasil analisis Ftes yang memperlihatkan bahwa nilai Fhitung = 135.244 > Ftabel = 4,26. Besarnya pengaruh volume penjualan mente dan biaya operasional terhadap laba bersih pada UD. Agung Esha tahun 2013 adalah sebesar 96,1%, sedangkan sisanya sebesar 3,9% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.

3. Fadhillah Ramadhani Nasution
Lisa Marlina
(2013)
“Pengaruh biaya operasional terhadap laba bersih Pada bank swasta nasional yang terdaftar
Di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2011 Menggunakan 1 variabel bebas yaitu Biaya Operasional dan 1 variabel terikat yaitu Laba Bersih. Hasil analisis data menunjukkan bahwa secara parsial variabel beban bunga berpengaruh positif dan signifikan terhadap Administrasi dan Umum adalah sebesar 0,182 lebih besar dari nilai signifikan sebesar 0,05. Hasil perhitungan baik melalui t hitung maupun nilai signifikan, menunjukkan Beban Administrasi dan Umum tidak berpengaruh signifikan terhadap Laba Bersih. Nilai t hitung untuk variable Tenaga Kerja sebesar 0,990 dengan nilai signifikan 0,326. Hasil uji tersebut menunjukkan t hitung lebih kecil dari t tabel (0,990 < 1,998). Dilihat signifikansinya, nilai signifikansi Beban Tenaga Kerja adalah sebesar 0,326 lebih besar dari nilai signifikan sebesar 0,05. Hasil perhitungan baik melalui t hitung maupun nilai signifikan, menunjukkan Beban Tenaga Kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap Laba Bersih.

4. Astri Fitrihartini S (2015)
“PENGARUH VOLUME PENJUALAN DAN
BIAYA OPERASIONAL TERHADAP LABA BERSIH”
(StudiKasusPada Perusahaan Batubara yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2014) Menggunakan 2 variabel bebas yaitu volume Penjualan dan biaya operasional, 1 variabel terikat yaitu Laba bersih Volume penjualan berpengaruh signifikan terhadap laba bersih pada Perusahaan Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014. Terdapat hubungan yang sedang dengan arah positif antara volume
penjualan dengan laba bersih, hal tersebut menunjukan apabila perusahaan dapat menaikan volume penjualan maka laba bersih perusahaan akan ikut naik hal ini di sebabkan karena naiknya harga jual batubara. Biaya operasional berpengaruh signifikan terhadap laba bersih pada Perusahaan Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014. Terdapat hubungan yang rendah dengan arah negatif antara biaya operasioanl dengan laba bersih, hal tersebut menunjukan apabila perusahaan dapat menekan biaya operasional maka laba bersih akan naik hal ini disebkan oleh menurunnya biaya penjualan dan biaya administrasi umum. Secara bersama-sama volume penjualan dan biaya operasional berpengaruh signifikan terhadap laba bersih pada Perusahaan Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014. Terdapat hubungan yang erat dengan arah positif antara volume penjualan dan biaya operasional terhadap laba bersih.

5. Fadillah Zainnah Ramadhan
PENGARUH BIAYA PRODUKSI DAN BIAYA OPERASIONAL TERHADAP LABA BERSIH
(Kasus Perusahaan Industri manufaktur sector industry barang konsumsi sub rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Menggunakan 2 variabel bebas yaitu biaya produksi dan biaya operasional, 1 variabel terikat yaitu Laba bersih Biaya Produksi berpengaruh terhadap laba bersih. Nilai korelasi bertanda positif, ini berarti terdapat hubungan antara biaya produksi dengan laba bersih. Dimana semakin tinggi biaya produksi maka akan diikuti oleh semakin tingginya laba bersih pada perusahaan rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dari hasil pengujian parsial dapat disimpulkan bahwa variabel Biaya Produksi terhadap Laba Bersih memiliki kontribusi pengaruh positif.

Biaya Operasional berpengaruh terhadap laba bersih. Nilai korelasi bertanda positif, ini berarti terdapat hubungan antara biaya operasional dengan laba bersih. sehingga pada penelitian ini biaya operasional tidak akan terlalu berdampak besar terhadap laba bersih pada perusahaan rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dari hasil pengujian parsial dapat disimpulkan bahwa variabel Biaya Operasioanal terhadap Laba Bersih memiliki kontribusi pengaruh positif.

Kerangka Pemikiran
Volume Penjualan

Laba Bersih

Biaya Operasional

Hipotesis
Pengaruh Volume Penjualan terhadap Laba Bersih.

Menurut penelitian Astri Fitrihartini pada tahun 2015 dengan judul “Pengaruh Volume Penjualan dan Biaya Operasional terhadap Laba Bersih (Studi Kasus Pada Perusahaan Batubara yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2014)” menyimpukan hasil penelitiannya bahwa Volume penjualan berpengaruh signifikan terhadap laba bersih pada Perusahaan Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014. Terdapat hubungan yang sedang dengan arah positif antara volume penjualan dengan laba bersih, hal tersebut menunjukan apabila perusahaan dapat menaikan volume penjualan maka laba bersih perusahaan akan ikut naik hal ini di sebabkan karena naiknya harga jual batubara.

Menurut penelitian Kadek Marlita Dewi pada tahun 2017 dengan judul “Pengaruh Biaya Operasional, Volume Penjualan, Modal Kerja, dan Perputaran Total Aktiva terhadap Laba Bersih Perusahaan sub sektor Logam dan sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia” menyimpukan hasil penelitiannya bahwa Volume penjualan kamar mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap laba bersih pada Hotel Grand Wijaya Singaraja tahun 2014- 2016. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis ttes yang menunjukkan bahwa nilai thitung lebih besar dari ttabel (16,355 > 2,03) dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05.

Menurut penelitian I Wayan Bayu Wisesa pada tahun 2014 dengan judul “Pengaruh Volume Penjualan Mente dan Biaya Operasional terhadap Laba Bersih pada UD. Agung Esha Karangasem tahun 2013” menyimpukan hasil penelitiannya bahwa Volume penjualan berpengaruh terhadap laba bersih pada UD. Agung Esha tahun 2013. Hal tersebut dilihat dari hasil analisis ttes yang memperlihatkan bahwa nilai thitung = 5.650 > ttabel = 1.81246 atau dengan signifikansi 0,000 < ? = 0,05. Besar pengaruh volume penjualan mente terhadap laba bersih adalah sebesar 0,883.Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas maka hipotesis dalam penelitian ini yaitu :H1 : Volume Penjualan berpengaruh terhadap Laba Bersih
Pengaruh Biaya Operasiaonal terhadap Laba Bersih.

Menurut penelitian Astri Fitrihartini pada tahun 2015 dengan judul “Pengaruh Volume Penjualan dan Biaya Operasional terhadap Laba Bersih (Studi Kasus Pada Perusahaan Batubara yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2014)” menyimpukan hasil penelitiannya bahwa Biaya operasional berpengaruh signifikan terhadap laba bersih pada Perusahaan Batubara yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014. Terdapat hubungan yang rendah dengan arah negatif antara biaya operasioanl dengan laba bersih, hal tersebut menunjukan apabila perusahaan dapat menekan biaya operasional maka laba bersih akan naik hal ini disebkan oleh menurunnya biaya penjualan dan biaya administrasi umum.
Menurut penelitian Kadek Marlita Dewi pada tahun 2017 dengan judul “Pengaruh Biaya Operasional, Volume Penjualan, Modal Kerja, dan Perputaran Total Aktiva terhadap Laba Bersih Perusahaan sub sektor Logam dan sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia” menyimpukan hasil penelitiannya bahwa dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05. Biaya operasional mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap laba bersih pada Hotel Grand Wijaya Singaraja tahun 2014-2016. Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis t-tes yang menunjukkan bahwa nilai t-hitung lebih besar dari t-tabel (6,919 > 2,03) dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05.

Menurut penelitian I Wayan Bayu Wisesa pada tahun 2014 dengan judul “Pengaruh Volume Penjualan Mente dan Biaya Operasional terhadap Laba Bersih pada UD. Agung Esha Karangasem tahun 2013″ menyimpukan hasil penelitiannya bahwa Biaya operasional berpengaruh terhadap laba bersih pada UD. Agung Esha tahun 2013. Hal tersebut dilihat dari hasil analisis ttes yang memperlihatkan bahwa nilai thitung = 3.078 > ttabel = 1.81246 atau dengan signifikansi 0,013 < ? = 0,05. Besar pengaruh biaya operasional terhadap laba bersih adalah sebesar – 0,716.Menurut penelitian Fadillah Zainnah Ramadhan pada tahun 2015 dengan judul Pengaruh Biaya Produksi Dan Biaya Operasional Terhadap Laba Bersih Perusahaan Manufaktur sektor Rokok” menyimpukan hasil dari pengujian statistik Biaya Operasional berpengaruh sebesar 10,78% sehingga biaya Produksi berpengaruh terhadap Laba Bersih pada perusahaan rokok. Hasil nilai korelasi sebesar 0,621 termasuk kategori “kuat” dan bertanda positif yang menunjukkan hubungan yang terjadi antara keduanya adalah searah, artinya kenaikana Biaya Operasional akan diikuti pula oleh kenaikan Laba Bersih.

Menurut Penelitian Mike Tumanggor pada tahun 2015 dengan judul “Pengaruh Biaya Operasional, Volume Penjualan, Modal Kerja, dan Perputaran Total Aktiva terhadap Laba Bersih Perusahaan Sub Sektor Logam Dan Sejenisnya yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” menyimpukan hasil penelitiannya bahwa Secara parsial biaya operasional memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap laba bersihsehingga besar kecilnya laba bersih yang diterima oleh Perusahaan Sub Sektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di BEI Periode 2011-2015.

Menurut Penelitian Mike Tumanggor pada tahun 2015 dengan judul “Pengaruh Biaya Operasional, Volume Penjualan, Modal Kerja, dan Perputaran Total Aktiva terhadap Laba Bersih Perusahaan Sub Sektor Logam Dan Sejenisnya yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia” menyimpukan hasil penelitiannya bahwa Secara parsial untuk variable volume penjualan menunjukkan bahwa variabel volume penjualan berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap laba bersih sehingga besar kecilnya laba bersih yang diterima oleh Perusahaan Sub Sektor Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di BEI Periode 2011-2015.

Berdasarkan beberapa hasil penelitian di atas maka hipotesis kedua dalam penelitian ini yaitu
H2 : Biaya Operasioal berpengaruh terhadap Laba Bersih

x

Hi!
I'm Mila

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out