Ada 5

Ada 5 (lima) sasaran strategis Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), sebagai penjabaran dari tujuan strategis Kemenristekdikti yang perlu dicapai dalam periode 2015-2019, yaitu: (1) Peningkatan proses pembelajaran pendidikan tinggi dan kualitas mahasiswa, (2) Peningkatan Lembaga Ilmu & Teknologi dan kualitas pendidikan yang lebih tinggi, (3) Peningkatan relevansi, kualitas, dan quantitiy sumber daya manusia untuk pendidikan tinggi dan ilmu pengetahuan dan teknologi, (4) Peningkatan relevansi dan produktivitas penelitian dan pengembangan, dan (5) Memperkuat kemampuan inovasi.
Sebagaimana diketahui, bahwa Universitas Riset (Reasearch university) adalah citra mutu dan sekaligus prestasi manajemen akademik tertinggi bagi sebuah perguruan tinggi, hal ini dapat diraih dengan membangun tata kelola/manajemen mutu akademik yang kokoh. Agar tata kelola perguruan tinggi dapat dijalankan dengan baik, maka organisasi dan mekanisme pengelolaan perguruan tinggi tersebut perlu diatur dalam peraturan yang disebut Statuta Perguruan Tinggi. Misi mencari, menemukan, menyebarluaskan kebenaran ilmiah dapat diwujudkan apabila perguruan tinggi dikelola berdasarkan suatu tata kelola perguruan tinggi yang baik (good university governance – al: checks and balance).
Persoalan yang dihadapi sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia saat ini adalah persoalan tata kelola, hal ini kerap dikaitkan dengan isu komersialisasi, dan privatisasi. Meskipun sejumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia saat ini telah memiliki otonomi dalam hal institusional dan kegiatan penelitiannya. Namun demikian sampai dengan saat ini, sejumlah perguruan tinggi terkemuka milik pemerintah pun masih perlu melakukan beberapa perbaikan tata kelola seperti pada: SDM, sarana-prasana, manajemen institusi, regulasi, serta dalam hal pengelolaan dana secara efisien dan relevan.
Beberapa perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta, juga masih terdapat yang belum memiliki fasilitas-fasilitas dan sumber daya manusia (human resources) yang memadai untuk dapat menunjang kegiatan penelitian dan pengembangan ipteknya. Hal tersebut tentu akan berdampak terhadap produktivitas serta budaya penelitian, ini mengindikasikan bahwa perguruan tinggi tersebut belum mampu dalam mengartikulasi kegiatannya, dari teaching learning (belajar mengajar) kepada learning through research (belajar melalui riset). Oleh karenanya, guna menunjang dan meningkatkan budaya dan kualitas riset di perguruan tinggi, maka kualitas tata kelola perguruan tinggi (good university governance) mutlak perlu untuk ditingkatkan.
Hubungan antara penelitian dan pendidikan tinggi telah diatur dalam UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan (SisNas LitBangRap) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Dalam undang-undang ini dinyatakan bahwa: “Kelembagaan riset terdiri atas perguruan tinggi, lembaga litbang, badan usaha, dan lembaga penunjang maupun unsur sumber daya dan jaringan iptek lainnya”.
Dari beberapa penjelasan yang telah diuraikan di atas, dapat diketahui bahwa fungsi riset dalam perguruan tinggi paling tidak dapat dikategorikan kedalam tiga hal. Pertama, sebagai pengajaran dan pelatihan metode ilmiah untuk mencari dan mengungkap pengetahuan baru. Kedua, riset dapat digunakan staf pengajar untuk mengembangkan bidang ilmu dan senantiasa mengasah daya pemikiran dan pengetahuannya. Ketiga, riset dapat ditujukan untuk mencari jawaban bagi permasalahan yang terdapat di masyarakat/bangsa.
Sementara kunci keberhasilan yang menentukan mutu riset adalah manajemen dan tata kelola riset. Dua kunci keberhasilan tersebut dijabarkan lebih lanjut oleh Vroeijenstijn menjadi indikator-indikator mutu riset. Ia menjabarkan manajemen mutu riset suatu perguruan tinggi menjadi lima bagian sebagai berikut:
(1) Program riset, dengan indikator keberhasilan: kebijakan riset,
koherensi berbagai program riset yang dihasilkan, dan memiliki kerangka kerja internasional; (2) Kemampuan kegiatan riset, dengan indikator keberhasilan: manajemen riset, program Doktor, serta berbagai kerja sama riset yang dilakukan baik di tingkat nasional maupun internsional; (3) Kemampuan para staf riset, dengan indikator keberhasilan: kualitas kemampuan dan kompetensi yang dimiliki; (4) Output riset yang dihasilkan, dengan indikator keberhasilan: jumlah publikasi riset, jumlah disertasi yang dihasilkan, diseminasi hasil-hasil riset, dan pendanaan oleh pihak eksternal (external funding); (5) Kepuasan yang diperoleh (satisfaction), dengan indikator keberhasilan: kepuasan para donor (funding agencies), komunitas para ilmuan, dan mahasiswa program Doktor Ph.D.

Sebagaimana dipaparkan di atas, bahwa manajemen mutu riset di sebuah perguruan tinggi ditentukan oleh manajemen dan tata kelola risetnya, mulai dari kebijakan dan program-program riset sampai dengan hasil dan kepuasan yang diperoleh. Hal serupa tertuang dalam Panduan Penilaian Kinerja Penelitian Perguruan Tinggi 2013 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Ditlitabmas) menyebutkan bahwa:
Manajemen penelitian menggambarkan kemampuan lembaga untuk mengelola kegiatan penelitian, mencakup adanya kelembagaan penjaminan mutu beserta kegiatan yang terkait dengan penjaminan mutu, meliputi Rekruitmen Reviewer Internal, Desk Evaluasi Proposal, Seminar Pembahasan Proposal, Penetapan Pemenang, Kontrak Penelitian, Monitoring dan Evaluasi (Monev) Internal, Seminar Hasil Penelitian Internal, Pelaporan Hasil Penelitian, Tindak Lanjut Hasil Penelitian (Jurnal, HKI, TTG), Kegiatan Pelatihan, dan Sistem Penghargaan/Reward. Selain hal-hal yang terkait dengan sistem penjaminan mutu sebagaimana disebut di atas, manajemen penelitian juga mencakup data penyelenggaraan kegiatan forum ilmiah, baik di tingkat internasional, nasional, dan regional. Penyelenggaraan forum ilmiah adalah forum pertemuan ilmiah yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi dalam bentuk seminar, lokakarya, konferensi, dan ekspose hasil-hasil penelitian, dalam tingkat internasional, nasional atau regional.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Diketahui bahwa, salah satu indikator kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari suatu negara adalah banyaknya hasil/luaran penelitian yang dipublikasikan dan dimanfaatkan oleh publik baik dalam skala regional maupun global. Publikasi ilmiah dalam skala global/internasional merupakan luaran dari penelitian sebuah perguruan tinggi yang merupakan salah satu indikator keberhasilan dan ketercapaian kinerja.
Pada beberapa tahun sebelum ini, tepatnya pada periode +/- Tahun 2010-an jumlah publikasi internasional yang dihasilkan oleh akademisi di Indonesia (khususnya perguruan tinggi) masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain, termaksud jika dibandingkan dengan sejumlah negara-negara ASEAN. Salah satu penyebabnya adalah karena sebagian besar industri di Indonesia masih terkonsentrasi pada level perdagangan dan manufaktur konvensional, artinya belum banyak industri di Indonesia yang berbasis kreatifitas hasil riset, dan inovasi. Hal ini dapat terlihat dari indikator keluaran riset, khususnya publikasi terindeks global dan paten.
Di Indonesia sejumlah perguruan tinggi telah mememiliki ISO 9100, namun demikian sebagian besar darinya belum berhasil mengimplementasikan sinergitas, yaitu hubungan kerjasama yang bersinergi dengan industri, jejaring (networking) antara perguruan tinggi dan industri (yang dikenal dengan konsep link and match). Padahal, jika konsep link and match pada perguruan tinggi berhasil diimplementasikan maka akan terbentuk Enterprise Network Integration (Mitra Usaha Terpadu), merupakan jaringan kemitraan antara perguruan tinggi dengan pihak industri (mulai dari small, medium, dan large size) yang terintegrasi dan sistemis. Perguruan tinggi dalam hal ini bukan hanya berfungsi sebagai simpul (node) jaringan yang menangani aktivitas litbang, transfer teknologi, pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia, namun lebih luas lagi peranannya bisa menjadi integrator (penghubung) jaringan yang menciptakan dan menyatukan jaringan-jaringan industri (mulai dari sektor industri kecil, menengah sampai besar). Melalui link and match enterprise network integration yang sistemis, maka kegiatan penelitian dan pengembangan iptek di sebuah perguruan tinggi dapat maju dan berkembang, hal tersebut tentunya berpotensi besar dalam mendukung konsep world research university. Lebih luas lagi akan berkontribusi sangat baik/positif terhadap kekuatan ekonomi bangsa dalam skala regional dan global.
Salah satu indikator pencapaian perguruan tinggi dalam mewujudkan World Research University, adalah jumlah publikasi ilmiah di internasional dan seberapa banyak publikasi tersebut dimanfaatkan oleh akademisi lain dengan mensitasi tulisan yang dihasilkan. Dan luaran yang paling penting dari suatu penelitian adalah mempublikasikan hasilnya di jurnal internasional bereputasi. Dengan mempublikasikan di jurnal internasional maka hasil penelitian akan ditelaah oleh para pakar bereputasi di bidangnya, sehingga

x

Hi!
I'm Mila

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out